*Mahasiswa empat negara bahas isu gedsi dalam program international student mobility*

- Redaksi

Sabtu, 15 November 2025 - 12:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banten — Harianinformasi.com ||Sejumlah mahasiswa dari Jepang, Thailand, Filipina, dan Indonesia berkolaborasi membahas isu global mengenai Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) melalui program International Student Mobility (ISM). Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari Krek University, Solo University (Filipina), perwakilan kampus dari Jepang dan Thailand, serta mahasiswa dari UIN Banten dan STAI KH Abdul Kabier (STAIKHA).

Program ini menjadi sorotan karena menghadirkan diskusi lintas budaya yang mengungkap bagaimana kesetaraan gender, akses bagi penyandang disabilitas, dan inklusi sosial diterapkan di berbagai negara.

 

Kolaborasi Internasional Bahas Pendidikan Inklusif

Melalui serangkaian diskusi, presentasi, dan studi kasus, para mahasiswa membandingkan kondisi GEDSI di negara masing-masing.

Perwakilan Jepang menjelaskan bahwa sistem pendidikan mereka sudah cukup responsif terhadap isu gender dan disabilitas, namun masih menghadapi tantangan seperti tekanan sosial terhadap peran gender tradisional serta masalah kesehatan mental mahasiswa.

Dari Thailand, mahasiswa mengungkap bahwa negaranya dikenal cukup terbuka terhadap keberagaman identitas gender, namun ketimpangan fasilitas pendidikan terutama di wilayah pedesaan masih menjadi pekerjaan rumah.

Mahasiswa Filipina memaparkan bahwa pemerintah negara mereka telah memiliki aturan progresif tentang perlindungan perempuan. Meski demikian, kekerasan berbasis gender dan keterbatasan fasilitas bagi penyandang disabilitas masih ditemukan di beberapa daerah.

Sementara itu, delegasi Indonesia dari UIN Banten dan STAIKHA menyoroti bahwa meski regulasi pemerintah tentang GEDSI terbilang kuat, implementasi di sekolah, pesantren, dan kampus masih jauh dari ideal. Masalah aksesibilitas disabilitas dan bias gender menjadi tantangan terbesar.

 

Tantangan Bersama Negara-negara Peserta

Dalam forum diskusi, peserta ISM menemukan lima tantangan global yang ternyata serupa dialami banyak negara, di antaranya:

Baca Juga:  From Farm to Table: The Journey of Food and its Impact on Our Health and the Environmen

• kuatnya budaya patriarki,

• minimnya fasilitas disabilitas,

• kurangnya pelatihan guru terkait pendidikan inklusif,

• stigma terhadap kelompok minoritas gender,

• serta ketimpangan ekonomi yang berdampak pada akses pendidikan.

Meski demikian, mahasiswa juga melihat peluang besar dalam penguatan GEDSI, terutama melalui kebijakan pemerintah yang semakin terbuka, teknologi pendidikan, dan kampanye sosial berbasis media digital.

 

Rumusan Solusi untuk Masa Depan GEDSI

Dalam penutupan kegiatan, mahasiswa dari empat negara tersebut merumuskan beberapa rekomendasi global, seperti:

• integrasi modul GEDSI dalam setiap program pertukaran pelajar,

• standarisasi fasilitas kampus ramah disabilitas,

• penelitian kolaboratif antarnegara,

• pembentukan komunitas digital GEDSI internasional,

• serta penyusunan kebijakan kampus berbasis pemetaan kebutuhan mahasiswa.

Mereka sepakat bahwa ISM bukan hanya program akademik, tetapi sarana membangun kepedulian sosial lintas negara.

 

Arah Baru Pendidikan Inklusif Dunia

Melalui kerja sama ini, para mahasiswa menegaskan bahwa mobilitas internasional dapat menjadi katalisator penting dalam memperkuat literasi global tentang inklusivitas. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun masa depan yang lebih adil dan ramah bagi semua kelompok, tanpa memandang gender, disabilitas, maupun latar sosial.

“International Student Mobility bukan sekadar pertukaran pelajar, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih setara,” ujar salah satu peserta dari Indonesia.

Program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan dikembangkan agar mampu melahirkan generasi muda yang sensitif, peduli, dan kompeten dalam menghadapi isu-isu inklusivitas global.

Sumber: Teguh

Red:Ata suharta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel harianinformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Suara Keadilan Masyarakat Bergerak Aksi Demonstrasi Besar, Akan Digelar di Desa Pamijahan Bogor
Lembaga Survey Kepuasan Masyarakat Angkat Suara Jalan KH Abdul Hamid Rusak Tak Kunjung Dibenahi
Distributor Miras di Sorong Diduga Langgar Izin dan Pajak 2023-2026
SPPG Pamijahan 03 Diduga Mar Up Harga Program Makan Bergizi Gratis, Jadi Sorotan Media
Tandai Percepatan Pemulihan Pascabencana Tabuhan Bedug Kasatgas PRR Tito di Masjid Baiturrahman
Telur Setengah Mateng dan Pisang Tidak Layak Konsumsi Diduga Jadi Menu SPPG Pamijahan 03
Ketua FM3D Ahmad ghojali Beserta Pemulung TPAS Galuga mendukung Program Pemerintah Terkait Akan di bangunnya PTLSa
#Save Wartawan, APH Harus Tegas Dalam Penegakan Hukum Kepada Perampas Kebebasan Pers
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 10:04 WIB

Suara Keadilan Masyarakat Bergerak Aksi Demonstrasi Besar, Akan Digelar di Desa Pamijahan Bogor

Minggu, 19 April 2026 - 09:36 WIB

Lembaga Survey Kepuasan Masyarakat Angkat Suara Jalan KH Abdul Hamid Rusak Tak Kunjung Dibenahi

Minggu, 12 April 2026 - 08:17 WIB

Distributor Miras di Sorong Diduga Langgar Izin dan Pajak 2023-2026

Senin, 9 Maret 2026 - 13:18 WIB

SPPG Pamijahan 03 Diduga Mar Up Harga Program Makan Bergizi Gratis, Jadi Sorotan Media

Minggu, 8 Maret 2026 - 03:59 WIB

Tandai Percepatan Pemulihan Pascabencana Tabuhan Bedug Kasatgas PRR Tito di Masjid Baiturrahman

Berita Terbaru